Sepenggal senja yang sempat kau titipkan masih saja tersimpan rapi di relung jiwa. Masih terlukis jelas kala kita mengarungi perjalanan menuju mimpi. Mimpi-mimpi yang sempat kita rangkai bersama. Aku yang selalu tak mengerti dan alpa membaca tanda-tanda dan kau yang tak pernah lupa mengingatkan dan menuntun arah.
Saat matahari mengganas, kita mengawali perjalanan di dibawah kaki para Dewa, menyusuri setiap lekukan tubuh para Dewi. Dan saat matahari pulang ke pelukan malam, rembulan pun tersenyum malu-malu. Kau dan aku bercakap tentang segala. Segala yang mungkin terjadi dan juga tentang segala yang pernah terjadi dan telah pula terlewati. Kau singkap segala batas dan tabir yang memisahkan kita, demikian juga aku. Mimpi-mimpi kita berkejaran menembus kelamnya malam.
Saat ini mimpi-mimpi kita telah retak selepas percakapan semalam.
Kau bertanya, “Hendak kemanakah kita?”.
Begini kataku, “Kita sekarang menuju makna”.
Kau mencecar, “Makna apa?”.
Aku berkata, “Mendamaikan perbedaan-perbedaan, menyamakan pandangan, menyatukan arah tujuan”.
“Ah..kita tak pernah berjalan maju”, tukasmu lalu berlalu.
Aku terdiam membatu, “Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana”, kataku dalam hati hanya dalam hati saja. Dan senja itu masih tersimpan rapi.